Friday, March 23, 2018

Samsung S9 Gagal di Kandang


Samsung S9 & S9+ tidak membukukan penjualan yang tinggi seperti yang diharapkan di Korea Selatan yang menjadi kandang Samsung. Selama ini S Series selalu menjadi primadona di Korea Selatan. Namun S9 & S9+ kali ini adalah pertama kali mengalami rekor penjualan yang tidak terlalu bagus.


Banyak spekulasi mengapa penjualan S9 & S9+ kali ini terbilang buruk. Pertama adalah S9 kali ini tidak mengalami upgrade estetik. Secara desain S9 & S9+ mirip dengan pendahulunya S8 & S8+ serta A8. Meski secara internal perubahan yang dibawa S9 & S9+ cukup banyak, namun tampaknya masyarakat korea selatan tidak terlalu peduli. Mereka lebih peduli dengan bentuk desain kosmetiknya yang harus berbeda disetiap generasi. Jika spekulasi ini adalah benar, maka ini adalah harga yang harus dibayar dengan sangat mahal oleh samsung karena menggunakan strategi Apple iPhone yang perubahan desainnya setiap beberapa tahun sekali. Tampaknya fans Samsung menginginkan desain yang radikal berubah setiap generasinya.

Spekulasi berikutnya adalah masalah harga. Kesuksesan produk Samsung sebelumnya terutama S Series yang menjadi flagship dari samsung adalah karena subsidi yang sangat besar dari operator sellular. S8 pada tahun lalu dengan subsidi yang besar sehingga dapat dimiliki oleh warga korea dengah harga kurang lebih $180. Namun praktek seperti ini telah dilarang oleh pemerintah Korea. Sehingga harga subsidi S9 yang terendah dibandingkan tahun lalu masih sangat tinggi. Saat ini harga subsidi S9 yang termurah adalah $430. Perbedaan harga yang terpaut jauh dengan generasi sebelumnya bisa jadi penyebab lain dari rekor penjualan S9 & S9+ tidak sebagus seperti sebelumnya.

Untuk di Indonesia tidak ada data pasti, namun dari antrian pengambilan pada 19 Maret lalu di 3 kota besar di Indonesia antrian tetap terbentuk panjang. Sayangnya tidak ada data real & data pembanding dari tahun sebelumnya yang dipublish oleh Samsung Indonesia. Jika alasan kedua yang menjadi penyebab rendahnya penjualan adalah harga subsidi, seharusnya di Indonesia tidaklah terlalu berpengaruh. Karena selama ini tidak ada satupun operator yang melakukan praktek subsidi harga yang sangat besar seperti yang dilakukan di Amerika Serikat & Korea Selatan. Namun jika alasan pertama yang menjadi penyebab, bisa jadi ini akan menjadi fenomena global.

No comments:

Post a Comment