20190329

Perlukah Shooting Game di Haramkan?

Sejak Video Games muncul dan diterima oleh masyarakat pada sekitar tahun 60-70an telah menuai kontroversi. Beragam pendapat dikeluarkan mengenai dampak negatif maupun positif video games bagi perilaku (behavior). Dan perdebatan itu terus berkembang hingga saat ini, terutama pada saat ini kualitas grafis & audio dari video games semakin bagus dan nyata, serta akses untuk bermain games semakin mudah dengan smartphone & jaringan internet. Dari sekian banyak genres games yang paling banyak menerima sorotan masyarakat adalah genres fighting & shooting. Dan saat ini terutama shooting games mobile menjadi sangat disorot.


Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa games shooting & fighting akan membentuk violence behavior, sosiopath, psychopath, & segala stigma jelek lainnya. Namun jika kita melihat pada kenyataan real, perubahaan perilaku menjadi violence dll tersebut hanya terjadi pada sangat sedikit gamer, bahkan banyak pula yang bukan gamer menunjukkan perilaku yang violence. Dan biasanya jika kita lihat seksama pada "gamer yang violence" ada beberapa faktor lain yang menjadi penyebab munculnya violence behavior tersebut. Pertama adalah pengalaman masa kanak-kanak dalam situasi yang menampilkan kekerasan sebagai sesuatu yang wajar, seperti orang tua yang suka memukul baik pasangan maupun anaknya, atau bermain video games tidak sesuai usia, misalkan anak kelas 5-7 tahun bermain games shooting untuk dewasa, cara mendidik yang mengajarkan eklusifitas kelompok dan menganggap kelompok lain lebih rendah juga dapat menimbulkan perilaku violence & kurangnya empati. Bisa juga karena cedera pada kepala yang sangat fatal saat kanak-kanak dapat menimbulkan perilaku violence & sadis. Namun psikologi manusia itu sangat komplek dan tidak sederhana untuk menentukan penyebab munculnya perilaku violence tersebut. Sebab banyak anak yang mengalami hal tersebut tidak berubah menjadi violence, sadis, & kejam. Bahkan ada yang tidak mengalami hal tersebut pada masa kanak-kanaknya tetapi kemudian menjadi pribadi yang violence, sadis, & kejam saat dewasa.

Dan faktor yang lain adalah genetik, dari sejumlah penelitian terhadap violence criminal ternyata mereka mayoritas memiliki persamaan secara genetis yang menimbulkan kondisi yang oleh para ahli disebut dengan "callous-unemotional traits". Meski tidak semua orang yang memiliki kelainan genetis ini akan menjadi pribadi yang violence & sadis. Sebab untuk menjadi seorang yang violence dengan empati yang rendah memerlukan berbagai faktor lain yang membentuk perilaku kasar tersebut.

Video games memang bisa menjadi salah satu faktor, namun tetap membutuhkan faktor lain agar perilaku violence tersebut muncul. Dan sebaiknya daripada langsung mengharamkan sebuah games, lebih baik adalah pendekatan kepada orang tua dan pengenalan mengenai fitur parental guidance control, sehingga anak tidak dapat menggunakan dan menginstall games yang tidak sesuai umur. Fitur ini sudah ada dalam semua smartphone, dan orang tua tinggal mengaktifkannya dengan langkah yang mudah. Memberikan pengertian bahwa orang tua harus pro aktif dalam menemani anak-anak saat menggunakan gadget & internet. Tentunya akan lebih efektif daripada sekedar melarang dan mengharamkan. Sebab biasanya semakin dilarang akan semakin dilakukan.

Strategi lain bisa saja dengan mengusulkan kepada pemerintah sebagai pembuat kebijakan, untuk membuat kebijakan baru agar semua games online di Indonesia dengan rating & genre dewasa harus berbayar atau bisa juga pay to play. Dengan Aturan ini tentu akan membuat anak-anak yang memiliki dana terbatas akan berhenti bermain games yang tidak sesuai dengan umur mereka. Situasi ini terbukti pada jaman MMORPG RO saat menerapkan paid to play, jumlah anak SD yang bermain games tersebut turun drastis. Namun tetap orang tua harus aktif.

Pengaturan games agar tidak memberikan dampak negatif itu penting, namun pelarangan secara penuh tidak akan efektif.

No comments:

Post a Comment