20190521

Huawei Bans, Bad For Google

Perang dagang antara pemerinta USA dengan PRC tentu sudah bukan hal baru. Sejak Trump menjadi presiden USA, sejak itu pula arah diplomasi & ekonomi Amerika Serikat berubah menjadi  sangat berseberangan dengan PRC. Dan menyebabkan persaingan ekonomi yang tidak sehat sehingga akhirnya di sebut menjadi perang dagang. Selama ini yang menjadi Pride dari USA tentu saja dari segi teknologi, dan PRC telah melangkah sangat maju pada saat ini sehingga membuat harga diri USA sebagai pusat inovasi teknologi dunia tercoreng. Dan Presiden Trump melihat Huawei sebagai manufaktur Smartphone terbesar dari PRC sebagai simbol pencapaian PRC yang harus dihancurkan dengan segala cara.


Jika awal tahun 2019 lalu diawali dengan drama penangkapan COO Huawei secara sewenang-wenang oleh USA, sehingga berakibat menimbulkan reaksi dari rakyat PRC yang membuang produk Apple mereka dan beralih ke produk-produk lokal PRC seperti Huawei sebagai bentuk reaksi nasionalisme mereka saat USA secara terang-terangan melakukan provokasi. Tentu saja yang kemudian dirugikan adalah APPLE sebagai salah satu Tech Giant di USA. Penjualan mereka langsung merosot tajam dan juga saham APPLE mengalami koreksi secara cepat.

Kali ini kembali Trump membuat kebijakan yang tujuannya adalah untuk menghambat Huawei yang dianggapnya sebagai simbol kesuksesan PRC dalam bidang teknologi. Kebijakan tersebut adalah melarang semua perusahaan Amerika untuk mensuplai Huawei baik dari segi hardware maupun software. Tentu saja akibat dari kebijakan tersebut salah satunya adalah Google sebagai salah satu tech giant dari USA harus tunduk dan mencabut kerja sama dengan Huawei. Terutama mengenai kerja sama Google & Huawei dalam penggunaan Google Service dalam android phone yang diproduksi oleh Huawei. 

Jadi dengan berakhirnya kerja sama tersebut artinya semua Smartphone Huawei generasi berikutnya yang masih menggunakan android akan menggunakan versi AOSP tanpa adanya google service didalamnya. Jadi semua smartphone Huawei baik yang untuk pasar PRC maupun Internasional tidak akan memiliki Playstore, Maps, Youtube, Chrome, Gmail, dan semua google services. Sedangkan untuk smartphone lama Huawei tidak akan menerima update android OS generasi berikutnya, atau bisa tetap menerima update namun tanpa ada lagi Google Services didalamnya.

Keputusan Trump ini tentu untuk short term akan terlihat mencederai Huawei. Namun untuk long term justru tech Industry di Amerika lah yang akan mengalami cedera. Saat ini Huawei telah memiliki sangat banyak patent dalam bidang networking, supply chain yang tersebar di berbagai negara dan tidak terpusat pada Amerika saja. Serta telah banyak komponen yang telah dilakukan secara in-house maupun oleh produsen dalam neger PRC sendiri.

Source: Counterpoint Research: Quarterly Market Monitor Q1 2019

Reaksi yang dapat timbul dari keputusan Trump ini tentu saja, para produsen Smartphone dari PRC akan defensif & bisa jadi mereka kemudian secara kompak mengambil keputusan untuk menarik diri untuk tidak lagi membeli lisence Google Services. Sebab smartphone PRC untuk pasar domestik merekapun selama ini sebenarnya tidak dilengkapi dengan Google Services sama sekali. Setiap pabrikan memiliki ekosistem sendiri, dengan adanya tragedi ini bisa jadi semua pabrikan smartphone di PRC bersatu dan membentuk ekosistem yang terpadu untuk menggeser Google & segala hegemoni Amerika. 

Untuk saat ini langkah Trump untuk menghambat Huawei dengan melakukan embargo Hardware & Software bisa dikatakan sudah terlambat. Huawei saat ini adalah produsen smartphone terbesar kedua didunia setelah Samsung. Dan hanya produsen smartphone asal PRC saja yang membukukan growth positif di Q1 2019 ini. Dan untuk top 5 produsen Android, 4 adalah produsen asal PRC, dengan posisi pertama ditempati oleh Samsung, selanjutnya adalah Huawei, Xiaomi, Oppo, Vivo. Ini artinya Google sendiri untuk Android sebenarnya sangat tergantung dengan produsen asal negeri Panda tersebut. 

Jadi jika pihak Beijing bereaksi dengan melarang semua produsen Smartphone asal PRC untuk mengambil hardware & software asal USA. Tentu perusahaan Amerika akan bangkrut, pasar domestik smartphone USA sangat dikuasai oleh brand asing. Bahkan brand lokal mereka seperti Apple-pun melakukan proses manufaktur utamanya adalah di FOXCON China. Sedangkan untuk merk lainnya katakanlah motorolla market share mereka sangat kecil.

PRC saat ini sudah terlalu siap dari segi teknologi, SDM, & SDA jika ingin dijegal dengan embargo seperti ini. Jadi untuk perang dagang di bidang teknologi komunikasi bisa dikatakan sudah dimenangkan PRC, namun bukan karena PRC lebih berstrategi daripada USA tetapi karena USA telah salah langkah.

No comments:

Post a Comment